Selasa, 01 Juni 2010

PERBANDINGAN GAYA PENULISAN KARYA SASTRA THE WITHERED ARM DENGAN AN IMAGINATIVE WOMAN

berikut adalah salah satu proposal yg saya buat di semester 5...
tumben saya membuatnya dalam bahasa indonesia, entah pas itu dapet berapa nilai nya dari bu dosen...
moga bisa jadi referensi buat teman-teman... :p


PERBANDINGAN GAYA PENULISAN KARYA SASTRA
THE WITHERED ARM DENGAN AN IMAGINATIVE WOMAN
(Oleh Thomas Hardy)

1.      Objek Material: “The Withered Arm” dan “An Imaginative Woman”
"The Withered Arm" dan "An Imaginative Woman" merupakan dua buah novella yg dibuat oleh seorang penulis yg sama, yaitu Thomas Hardy. Paper ini akan memberikan penjelasan mengenai beberapa persamaan dan perbedaan di antara kedua karya tersebut. Novella yang berjudul “The Withered Arm” dibuat pada tahun 1888, sedangkan “An Imaginative Woman” dibuat pada tahun 1894. Jarak rentang pembuatan kedua karya sastra ini memang cukup jauh, namun keduanya memiliki nada yang sama dalam pengisahan seorang wanita. Kedua karya tersebut ditulis dalam narasi yg menggunakan sudut pandang orang ke tiga (serba tahu). Gaya penulisan dari kedua karya tersebut memang terkesan kuno (jaman dulu), yang mungkin ingin mempengaruhi kita sebagai pembaca bahwa isi cerita yang terdapat dalam  kedua novella tersebut terjadi di sekitar abad 19-an. Tema utama dari kedua novella tersebut ialah mengenai takdir dan ironi kehidupan. Inilah yang membuat cerita dalam kedua novella tersebut terkesan begitu tragis, yang dapat membangkitkan minat dan emosi para pembaca. Menurut penulis, mungkin itulah alasan yg telah dipilih oleh Thomas Hardy untuk membuat sebuah karya sastra dengan gaya penulisan seperti ini.
Penulis sengaja memilih kedua novella buatan Thomas Hardy ini sebagai sasaran penelitan, dikarenakan unsur-unsurnya cukup lengkap untuk dapat diteliti sehingga menghasilkan penemuan makna dari cerita di dalam karyanya. Pada saat ini banyak penulis sastra yang hanya mementingkan kuantitas karya mereka, namun kurang memperhatikan kualitas dan karakter di dalamnya. Saat membaca novella Thomas Hardy, ditemukan ada karakter penulisan yang mungkin dapat diteladani oleh para sastrawan modern. Kedua novella Thomas Hardy ini sangat menggugah minat hati penulis untuk mengadakan penelitian secara mendalam guna menggali makna melalui pemahaman terhadap gaya penulisan Thomas Hardy yang tercermin dalam cerita.

2.      Objek Formal: Pendekatan Analisis Struktural
Penelitian ini dirancang berdasarkan pendekatan analisis struktural, karena pendekatan ini dianggap paling sesuai dengan tujuan penulis untuk dapat membandingkan isi dan unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra "The Withered Arm" dan "An Imaginative Woman", untuk dapat mengetahui gaya penulisan Thomas Hardy pada kedua novella tersebut.
            Model penerapan pendekatan analisis struktural dalam penelitian ini ialah dengan menjadikan karya sastra sebagai pijakan utama untuk menganalisa. Jadi, yang terpenting ialah unsur-unsur struktur yang ada dalam karya tersebut beserta transformasinya secara keseluruhan.
Pendekatan analisis struktural ini bertujuan untuk memaparkan secermat mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur karya sastra yang secara bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, 1984:135). Unsur-unsur karya sastra yang dimaksud dalam penelitian ini ialah tema, alur, suasana, latar, penokohan, serta gaya bahasa (penulisan).

3.      Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik simak. Dalam hal ini, teknik simak yang dimaksud ialah proses membaca karya secara keseluruhan dan mencatat bagian-bagian penting di dalamnya, untuk kemudian dapat dijadikan objek data yang layak diteliti. Data-data dari kedua novella yang telah dicatat oleh penulis ini, akan diteliti lebih jauh sehingga menemukan perbandingnya satu sama lain, yang pada akhirnya akan menemukan kesimpulan gaya penulisan Thomas Hardy dalam pembuatan dua karya sastra tersebut.

4.      Sampel Data
Penelitian ini akan mengambil contoh/sampel data dari kutipan fakta-fakta yang tertulis pada karya sastra “The Withered Arm” dan “An Imaginative Woman”, yang menunjukkan gaya penulisan Thomas Hardy dalam pembuatan dua buah karya sastra tersebut. Sampel data ini berupa kalimat-kalimat yang dikutip dari masing-masing novella, yang menunjukkan tema, alur, karakter/penokohan, suasana, serta gaya bahasa dari masing-masing karya sastra.
Berikut ini adalah beberapa sampel data yang telah penulis catat untuk dapat dikembangkan menjadi bahan-bahan penelitian:
1.      Tema karya sastra
-          Gaya penulisan Thomas Hardy yang menunjukkan adanya tema mengenai “sebuah ikatan pernikahan yang tak berarti”:
Marchmill considered his wife's likes and fancies, those smallest greatest particulars that no common denominator could be applied. (An Imaginative Woman, halaman 1)
Kalimat di atas merupakan salah satu sampel yang menunjukkan adanya suatu ikatan pernikahan yang terasa kurang berarti. Di dalamnya terdapat ketidakcocokan suami istri yang akan mempengaruhi perjalanan cerita. Dalam hal ini kita dapat memahami karakter Marchmill (suami) yang kurang bijak dalam menyikapi rasa ketidakcocokannya terhadap Ella (istri).
The Withered Arm juga menunjukkan hal yang sama, Di dalam karya "The Withered Arm" terdapat ketidakcocokan antara Farmer Lodge dan Gertrude. Gertrude lebih memperhatikan dirinya sendiri (her arm) dibandingkan bagaimana dirinya di hadapan Farmer Lodge.
-          Gaya Penulisan Thomas Hardy yang menunjukkan adanya pengkhianatan yang dilakukan seorang manusia
"I found them in the closet here," she said, "and put them on in a freak. What have I else to do? You are always away!" (An imaginative Woman, halaman 9)
Kalimat di atas menjelaskan bagaimana Ella membohongi suaminya ketika ia menggunakan pakaian Mr. Trewe. Pada kenyataannya, Ella menggunakan pakaian Mr. Trewe karena mencintainya. Ella telah mengkhianati suaminya.
Pengkhianatan juga terjadi dalam karya  "The Withered Arm", Farmer Lodge telah mengkhianati anaknya. Dia lebih memilih untuk mengabaikan anaknya karena ia merupakan hasil hubungan gelapnya dengan Rhoda Brook. Farmer Lodge mengabaikan anaknya itu juga dikarenakan dia adalah anak haram, serta dikucilkan dari masyarakat.
2.      Penokohan
Tokoh utama dalam kedua cerita ini ialah wanita. Pada "The Withered Arm", yang menjadi tokoh utama ialah Gertrude, dan pada "An Imaginative Woman" tokoh utamanya ialah Ella.
3.      Setting (latar tempat dan waktu)
Kedua novella ini mengambil setting waktu yang sama, yaitu pada abad 19-an, pada masa pemerintahan Victoria. Meskipun cerita dalam kedua novella ini berada dalam setting waktu yang sama, namun mereka dibuat dalam latar tempat yang berbeda.  "An Imaginative Woman"  dibuat dengan latar tempat di lingkungan urban (daerah perkotaan) sedangkan “The Withered Arm" dibuat dengan latar tempat di daerah pedesaan (rural area). Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam gaya penulisan yang dilakukan oleh Thomas Hardy.

5.      Penjelasan mengenai objek formal
Dalam penelitian ini, penulis mengingat teori Abrams yang menyatakan bahwa penelitian karya sastra memiliki beberapa model pendekatan, yang dibagi dalam 4 kelompok besar:
-          Ekspresif: yaitu model pendekatan yamg menonjolkan kajiannya terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra
-          Pragmatik: yaitu model pendekatan yang lebih menitikberatkan sorotannya terhadap peranan pembaca sebagai penyambut dan penghayat sastra
-          Mimetik: yaitu model pendekatan yang lebih berorientasi pada aspek referensial dalam kaitannya dengan dunia nyata
-          Objektif: yaitu model pendekatan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom dengan koherensi intrinsik.
Dari teori model pendekatan yang terakhir, yaitu pendekatan objektif, penulis menyadari adanya perhatian penuh terhadap karya sastra sebagai sebuah struktur. Dari sinilah teori tersebut akan mengarah pada strukturalisme.

6.      Sinopsis
-          Sinopsis “The Withered Arm”
Seting cerita “The Withered Arm” ini ditempatkan di Wessex, dimulai dengan adanya seorang pelayan beserta anaknya laki-laki. Pertama-tama kita akan dikenalkan seorang tokoh bernama Rhoda Brooks, seorang pemerah susu yang bekerja untuk seorang pria bernama Farmer Lodge. Dalam bab pertama novella ini, kita akan menemukan adanya perselingkuhan yang terjadi antara Rodha dan Lodge yang kemudian menghasilkan hadirnya anak laki-laki.Mereka tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil yang sudah rusak dan keadaannya sungguh memprihatinkan. Dan kita dijelaskan juga bahwa sejak saat itulah Farmer Lodge tidak mengakui keberadaan Rodha dan  anaknya lagi. Hubungan mereka berakhir. ”He hasn't spoken to Rhoda Brook for years” (The Withered arm, page 1). Sudah bertahun-tahun lamanya Farmer Lodge tidak mau lagi berkomunikasi dengan Rodha.
Selanjutnya ialah cerita mengenai kehidupan Farmer Lodge, bertempat di rumahnya dengan istri barunya yang masih muda dan cantik, yaitu Gertrude. Gertrude memiliki kepribadian yang lembut, sangat mudah terharu dan memiliki sikap kepedulian yang cukup besar, hal ini sangatlah kontras dengan suaminya, yang memiliki sikap busuk, tidak peduli serta penuh dengan keangkuhan.
Sebuah peristiwa terjadi, tidak lama setelah kehadiran Gertrude, saat itu Rhoda bermimpi bahwa dia dikunjungi oleh Gertrude yang memamerkan cincin pernikahannya. Rhoda, yang memiliki sikap pahit terhadap semua orang, merasa marah dan ia pun menyakiti lengan (tangan) Gertrude. Meskipun itu semua hanyalah mimpi Rhoda, namun kejadian ini mengakibatkan sakitnya lengan (tangan) Gertrude di dalam kenyataannya.
Cerita ini mengisahkan bagaimana Gertrude tetap berjuang menemukan obat untuk tangannya yang perlahan-lahan makin melemah dan sekarat, seraya ia tetap mencoba untuk menjaga kasih sayang yang pernah diberikan suaminya. Obsesi dan tekadnya untuk dapat menyembuhkan dirinya sendiri, membawa Gertrude ke tempat-tempat berbahaya. Dari sinilah kita ditunjukkan betapa Gertrude menjadi sangat pemberani.

-          Sinopsis “An Imaginative Woman”
Ella Marchmill, seorang wanita yang penuh dengan daya imajinasi (atau mungkin seseorang yang mudah berkhayal), ialah penulis puisi yang memiliki cita-cita tinggi.  Ia menulis puisi-puisi dengan menggunakan nama samaran John Ivy. Dia menggunakan nama samaran ini karena pada jaman itu, tidak akan ada orang yang percaya akan inspirasinya jika mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah seorang wanita, jadi Ella menyamar sebagai laki-laki.
Suami Ella adalah seorang gunmaker (pembuat senjata). Baik itu watak, kepribadian, karakter, minat maupun sifatnya sangat berbeda jauh dengan Ella. Ketika Ella dan suaminya, serta ketiga anaknya pergi berlibur ke Solentsea di Upper Wessex, tiba-tiba Ella menjadi sangat terobsesi dengan seseorang  bernama Robert Trewe, yaitu seorang penulis puisi yang pernah tinggal di kamar penginapannya sebelumnya. Selama di Solentsea, dia meyakinkan dirinya bahwa ia telah jatuh cinta terhadap pria yang belum pernah ia jumpai sebelumnya itu. Dari sinilah Ella merasa sangat ingin bertemu dengan Trewe.  
Ella merasa kesepian karena suaminya selalu sibuk sendiri. Di samping itu, anak-anaknya diasuh oleh perawat (baby sitter). Oleh karenanya, Ella lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca karya-karya Trewe di kamarnya. Dia mulai mengagumi Trewe. Dia mencari-cari kesamaan dan hubungan di antara mereka. Apalagi Mrs. Hooper sering meceritakan tentang Trewe kepadanya. Akan tetapi, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain sampai Ella harus pulang. Setiap saat dia mencoba untuk menemui Trewe, dia gagal. Mereka berkomunikasi hanya melalui surat menyurat dan Ella menggunakan nama laki-laki, yaitu John Ivy.
Beberapa saat kemudian, Robert Trewe meninggal karena dia bunuh diri. Pada waktu itu, Ella benar-benar mencintainya dan ia pun merasa kecewa dan putus asa. Dia menghadiri pemakaman Robert Trewe tanpa memberi tahu siapa pun. Dia mengetahui kematian Robert Trewe melalui berita di surat kabar.
Mr. Marchmill datang untuk menjemput Ella. Saat itu Ella meminta rambut Trewe dan fotonya untuk mengenang cintanya.
Beberapa waktu kemudian, Ella melahirkan seorang anak dan meninggal setelahnya. Cerita menjadi semakin ironis. Dua tahun kemudian Mr Marchmill membandingkan rambut dan wajah anaknya itu dengan Robert Trewe. Dia menemukan banyak kesamaan di antaranya dan dia pun marah. Dia tidak mau menerima anaknya.